Anak usia dini yang berada dalam rentang usia lahir 0 hingga 6 tahun, merupakan individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Masa ini sering kali disebut sebagai golden age (usia emas), karena struktur otak anak berkembang hingga 80-90% dari ukuran otak dewasa. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai hakikat tumbuh kembang pada fase ini menjadi pondasi utama dalam menentukan arah stimulasi dan pendidikan yang tepat.
Meskipun istilah "pertumbuhan" dan "perkembangan" sering diucapkan dalam satu kesatuan, keduanya memiliki makna yang berbeda namun saling berkaitan erat:
1. Pertumbuhan (Growth)
Pertumbuhan bersifat kuantitatif, artinya perubahan fisik yang terjadi dapat diukur secara nyata dengan angka. Proses ini berfokus pada pematangan fisik struktur tubuh anak.
Aspek Utama: Pertambahan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, pertumbuhan gigi, serta kematangan sistem saraf.
Faktor Penentu: Sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi, kesehatan umum, imunisasi, dan faktor genetik (keturunan).
2. Perkembangan (Development)
Perkembangan bersifat kualitatif, artinya berfokus pada peningkatan fungsi organ tubuh, kapasitas mental, psikologis, dan kemampuan interaksi anak dengan lingkungannya.
Aspek Utama: Kemampuan berpikir logis (kognitif), keterampilan berbicara dan memahami (bahasa), koordinasi otot dan keseimbangan (motorik), pengelolaan emosi dan adaptasi (sosial-emosional), serta pembentukan nilai moral, agama, dan karakter bangsa (Pancasila).
Faktor Penentu: Sangat dipengaruhi oleh kualitas stimulasi, pola asuh, lingkungan bermain, dan kesempatan eksplorasi yang diberikan oleh orang dewasa.
Proses tumbuh kembang anak usia dini memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari fase usia lainnya:
Berjalan Secara Kontinu dan Berurutan: Setiap tahapan perkembangan anak menjadi fondasi bagi tahapan berikutnya (misalnya: anak harus bisa duduk dan merangkak dengan kokoh sebelum akhirnya bisa berjalan).
Kecepatan Unik pada Setiap Anak (Individual Rate): Setiap anak tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda. Standar pencapaian (seperti STPPA) berfungsi sebagai panduan kisaran waktu perkembangan, bukan alat pembanding yang kaku.
Belajar Melalui Pengalaman Konkret: Anak usia dini memahami dunia menggunakan panca indra dan gerakan tubuh mereka. Proses belajar yang paling efektif bagi mereka terjadi melalui aktivitas bermain.
Tumbuh kembang yang optimal tidak dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan membutuhkan sinergi yang selaras antara pemenuhan kesehatan fisik (nutrisi dan stimulasi motorik) serta pengayaan psikologis (kasih sayang, rasa aman, dan pendidikan nilai yang holistik). Kegagalan atau keterlambatan stimulasi pada masa ini dapat berdampak jangka panjang pada kesiapan belajar dan kualitas hidup anak di masa depan.
Anak usia dini bukanlah replika kecil dari orang dewasa. Mereka adalah individu yang memiliki dunia, cara berpikir, dan karakteristik perilaku tersendiri yang sangat khas serta unik. Karakteristik ini bersifat kodrati dan merupakan bagian alami dari proses kematangan saraf serta psikologis mereka. Memahami karakteristik khas anak usia dini menjadi kunci bagi para pendidik dan orang tua agar tidak memaksakan standar orang dewasa kepada anak, melainkan mampu menyesuaikan metode stimulasi dengan kebutuhan riil mereka. Secara umum perilaku Anak Usia Dini (AUD) antara lain:
Memiliki rasa ingin tahu yang besar, di mana anak selalu tertarik dengan hal-hal baru di sekitarnya dan sering bertanya.
Egosentris; Anak cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang serta kepentingannya sendiri.
Sangat aktif dan energik; Anak gemar bergerak, berlari, dan mengeksplorasi lingkungan alih-alih duduk diam dalam waktu lama.
Memiliki imajinasi dan fantasi tinggi; Dunia khayalan anak sangat kaya, sering kali mereka menganggap benda mati memiliki nyawa.
Rentang perhatian pendek (short attention span); Anak mudah terdistraksi dan umumnya hanya mampu fokus pada satu kegiatan selama 10–15 menit.
Bersifat spontan dan ekspresif; Anak bertindak atau mengungkapkan perasaan apa adanya tanpa ditutup-tutupi.
Gemar meniru; Segala sesuatu yang dilihat dari orang dewasa atau lingkungan sekitar akan cepat diserap dan ditirukan
Beberapa aspek pertumbuhan dan perkembangan utama yang perlu diperhatikan pada anak usia dini adalah:
Nilai Agama dan Akhlak Mulia: Praktik ibadah harian dasar dan akhlak terhadap sesama makhluk.
Nilai Pancasila: Perilaku kebersamaan, gotong royong, dan peduli sesama.
Fisik-Motorik: Kebugaran, kekuatan otot, koordinasi tubuh, serta kemandirian menjaga kesehatan tubuh.
Kognitif: Kemampuan bernalar logis, memecahkan masalah sehari-hari, dan berpikir kritis.
Bahasa: Kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pendapat, serta keaksaraan awal (mengenal simbol/buku).
Sosial-Emosional: Kemampuan mengelola emosi diri, bersabar, mengantre, dan berkolaborasi dengan teman
Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) merupakan sebuah kriteria resmi dari pemerintah mengenai kemampuan minimal yang diharapkan dapat dicapai oleh anak usia dini setelah mereka mengikuti proses belajar di PAUD. Jika dianalogikan sebagai Standar Kompetensi Lulusan (SKL), maka STPPA ini merupakan SKL-nya PAUD.
STPPA tidak bersifat baku, artinya ia hanya peta acuan bagi para guru dalam mendampingi dan memfasilitasi kegiatan bermain anak, mengembangkan kurikulum atau melakukan observasi harian anak. Begitu pula dengan orang tua, STPPA menjadi referensi untuk melihat apakah perkembangan anak secara umum sudah berjalan sesuai usianya, tanpa perlu merasa cemas atau membanding-bandingkan anak secara kaku. Jadi, STPPA merupakan tolok ukur kesehatan tumbuh kembang anak secara menyeluruh (holistik), agar satuan PAUD di seluruh Indonesia memiliki standar minimal yang sama dalam menjaga dan menstimulasi periode emas anak-anak.
STPPA lahir dalam regulasi pendidikan anak usia dini secara bertahap, sesuai dengan berbagai kebijakan pemerintah yang diturunkan sebagai pembinaan PAUD secara umum. Prinsipnya sama saja, yaitu sebagai panduan tumbuh kembang anak usia dini di Indonesia. Hanya saja, seiring berkembangnya ilmu psikologi perkembangan anak dan kebijakan negara, nomenklatur (penamaan) serta pengelompokan aspeknya terus disempurnakan agar semakin ramah anak dan tidak memicu calistung kaku sejak dini. Berikut gambaran singkatnya:
Regulasi terbaru yaitu Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 (yang kemudian diperbarui dalam regulasi Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025) tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, STPPA memotret kesiapan dan ketercapaian anak pada akhir masa PAUD melalui 6 area fondasi utama sebagai berikut:
Agama, Moral dan Akhlak: Anak meniru sikap, ucapan, dan perilaku keagamaan dari orang dewasa di sekitarnya (orang tua dan guru) tanpa memahami maknanya secara mendalam terlebih dahulu (imitatif). Saat ini, anak menilai baik atau buruknya suatu tindakan berdasarkan konsekuensi fisik (misalnya, takut dihukum atau ingin mendapat pujian), belum karena kesadaran internal. Dalam memahami konsep ketuhanan, kebaikan, dan dosa pada AUD, lebih mudah melalui analogi atau contoh nyata yang bisa mereka lihat dan rasakan sehari-hari.
Nilai Pancasila: aspek Nilai Pancasila dimasukkan sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dicapai oleh anak usia dini sebagai upaya untuk memperkuat fondasi karakter kebangsaan, kebinekaan global, gotong royong, dan moralitas anak sejak usia dini. Anak usia dini adalah peniru ulung (imitator). Dengan memasukkan Nilai Pancasila ke dalam aspek perkembangan formal (STPPA), guru memiliki panduan yang jelas untuk mengamati apakah anak sudah mulai menumbuhkan karakter mulia tersebut. Target akhirnya bukan agar anak bisa menghafal bunyi sila atau simbol burung Garuda, melainkan agar profil Pelajar Pancasila (seperti mandiri, bernalar kritis, gotong royong, dan berkebinekaan global) terbangun secara alami melalui pembiasaan sehari-hari.
Fisik-Motorik: Mengalami pertumbuhan fisik yang cepat serta peningkatan koordinasi motorik kasar (seperti melompat dan berlari) dan motorik halus (seperti memegang pensil atau menyusun balok). Motorik kasar melibatkan pergerakan otot-otot besar yang memerlukan koordinasi sebagian besar atau seluruh tubuh. Fokus utamanya adalah pada keseimbangan, kekuatan, dan ketangkasan. Ruang lingkupnya meliputi:
Gerak Lokomotor: Kemampuan berpindah tempat dari satu titik ke titik lain. Contohnya adalah merangkak, berjalan, berlari, melompat, memanjat, dan berjingkat.
Gerak Non-lokomotor: Gerakan tubuh yang dilakukan di tempat tanpa berpindah posisi. Contohnya adalah membungkuk, meregangkan tubuh, berputar, mengayunkan lengan, dan menjaga keseimbangan dengan berdiri satu kaki.
Gerak Manipulatif: Kemampuan mengontrol suatu objek menggunakan tangan atau kaki. Contohnya adalah menendang bola, melempar bola, menangkap mainan, dan memukul bola plastik.
Sedangkan Motorik halus melibatkan gerakan menggunakan otot-otot kecil yang memerlukan koordinasi mata dan tangan yang sangat cermat. Ruang lingkup ini menjadi fondasi penting bagi kemandirian dan kesiapan belajar anak. Ruang lingkupnya meliputi:
Kekuatan Otot Jari dan Tangan: Kemampuan meremas (playdough/kertas), mengepalkan tangan, menyobek, menggulung, dan memeras spons air.
Koordinasi Mata-Tangan: Kemampuan mengarahkan gerakan tangan berdasarkan apa yang dilihat. Contohnya adalah menyusun balok menara, memasukkan manik-manik ke dalam benang (meronce), menyusun puzzle, dan mengancingkan baju sendiri.
Kemampuan Pra-menulis: Kemampuan memegang alat tulis dan mengontrol gerakannya. Contohnya adalah memegang krayon dengan benar, mencoret-coret bebas, menggambar bentuk lingkaran atau garis, dan menggunting kertas mengikuti pola garis lurus/lengkung.
Terdapat dua (2) prinsip penting dalam perkembangan motorik anak, yaitu pertama, perhatikan arah Sefalokaudal, yaitu dari arah kepala ke kaki, di mana anak belajar mengendalikan tubuh bagian atas terlebih dahulu (mengangkat kepala, duduk) baru kemudian tubuh bagian bawah (berdiri, berjalan); Kedua, perhatikan arah Proksimodistal, yaitu dari pusat ke tepi, di mana anak mampu mengontrol otot-otot yang dekat dengan pusat tubuh (bahu, lengan) sebelum mengontrol otot-otot di bagian ujung (pergelangan tangan, jari-jari).
Sebagai bagian dari sub perkembangan motorik ini adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kemampuan mandiri dalam menjaga kesehatan sangat berhubungan dengan motorik halus, seperti mencuci tangan dengan sabun (di mana di dalamnya memerlukan kemampuan motorik halus anak untuk dapat menggosok telapak tangan, sela-sela jari, dan memutar keran air), atau menggosok gigi, makan sendiri, bahkan toilet training. Sedangkan kebugaran pada tubuh anak berkaitan erat dengan perkembangan motorik kasar, seperti berbagai aktivitas fisik, seperti berlari, melompat, dan senam yang secara langsung menjaga kebugaran fisik, memperkuat jantung, otot, dan meningkatkan imunitas anak agar tidak mudah sakit. Adapun keseimbangan dan refleks merupakan kemampuan motorik kasar yang dapat membantu anak menjaga keseimbangan tubuh agar tidak mudah terjatuh, sehingga mereka bisa menjaga keselamatan fisik dari cedera. Kemampuan motorik juga berfungsi untuk mengeksekusi tindakan penyelamatan diri, misalnya anak tahu harus menarik tangannya menjauh (motorik halus/kasar) saat mendekati benda panas atau tajam, atau berjalan hati-hati di lantai yang basah agar tidak tergelincir.
Kognitif: Belajar secara konkret (nyata) melalui panca indra. Pada tahap ini, pemikiran anak bersifat praoperasional dan belum bisa memahami konsep abstrak yang rumit.
Menurut Jean Piaget dengan teori perkembangan kognitifnya serta Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) terdapat tiga (3) area utama perkembangan kognitif anak usia 0-6 tahun, yaitu:
a. Belajar dan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Area ini mengukur kemampuan anak dalam menggunakan logikanya untuk menyelesaikan kendala sehari-hari. Ruang lingkupnya meliputi:
Menunjukkan rasa ingin tahu: Mampu mengajukan pertanyaan "apa", "mengapa", dan "bagaimana" terhadap fenomena di sekitarnya.
Memecahkan masalah sederhana: Menemukan solusi kreatif dalam aktivitas bermain, misalnya mencari mainan yang tersembunyi atau mencari cara menyusun balok agar tidak roboh.
Menerapkan pengetahuan: Menggunakan pengalaman masa lalu ke dalam situasi baru (misalnya, tahu bahwa benda bulat bisa menggelinding).
b. Berpikir Logis
Area ini melibatkan kemampuan anak untuk mengorganisasikan objek dan konsep di dunia nyata secara sistematis. Ruang lingkupnya meliputi:
Klasifikasi (Mengelompokkan): Memilah benda berdasarkan atribut tertentu, seperti warna, bentuk, ukuran, atau jenisnya (misal: mengelompokkan mainan hewan dan mainan mobil).
Seriasi (Mengurutkan): Menyusun benda berdasarkan gradasi ukuran, seperti dari yang paling kecil ke yang paling besar, atau dari yang paling pendek ke yang paling panjang.
Mengenal Pola: Mengenali, meniru, dan melanjutkan pola warna atau bentuk yang berulang (misalnya: merah-biru-merah-biru).
Sebab-Akibat: Memahami hubungan logis antarperistiwa (misalnya: "Jika air ditumpahkan, lantai menjadi basah").
c. Berpikir Simbolik
Area ini merupakan jembatan sebelum anak masuk ke ranah akademik yang lebih abstrak di sekolah dasar. Ruang lingkupnya meliputi:
Mengenal Lambang Bilangan: Bukan sekadar menghafal urutan angka, melainkan memahami konsep kuantitas/jumlah objek (misalnya: angka '3' mewakili tiga buah apel).
Mengenal Huruf dan Simbol: Menghubungkan bentuk huruf dengan bunyi suaranya, serta mengenali rambu atau gambar simbolis di sekitarnya.
Representasi Mental: Kemampuan membayangkan objek yang tidak ada di depan mata. Hal ini terlihat jelas saat anak melakukan imaginative play atau bermain peran (misalnya: menggunakan balok kayu seolah-olah itu adalah telepon genggam).
Bahasa: berfokus pada kemampuan anak untuk memahami, mengolah, dan mengekspresikan informasi secara verbal maupun non-verbal. Berdasarkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA), ruang lingkup perkembangan bahasa anak usia 0–6 tahun dibagi menjadi tiga area utama:
a. Menerima Bahasa (Receptive Language)
Area ini berfokus pada kemampuan anak untuk memahami apa yang didengar dan dilihat dari lingkungan sekitarnya. Ruang lingkupnya meliputi:
Mendengarkan dan Memahami: Kemampuan menyimak perkataan orang lain, mengenali suara, dan merespons ketika namanya dipanggil.
Mengikuti Instruksi: Kemampuan memahami dan melakukan perintah yang diberikan, mulai dari instruksi satu langkah (misal: "Tolong ambilkan bola itu") hingga instruksi multi-langkah (misal: "Simpan mainanmu di kotak, lalu cuci tanganmu").
Memahami Konsep Kata: Mengerti arti kata-kata yang diucapkan orang lain, termasuk konsep posisi (di atas, di bawah, di dalam) dan lawan kata (besar-kecil, panas-dingin).
b. Mengungkapkan Bahasa (Expressive Language)
Area ini berfokus pada kemampuan anak untuk menyampaikan pikiran, keinginan, dan perasaan mereka kepada orang lain. Ruang lingkupnya meliputi:
Menjawab Pertanyaan: Mampu merespons pertanyaan sederhana dari orang lain dengan jawaban yang relevan.
Bertanya dan Bercerita: Mampu mengajukan pertanyaan menggunakan kata tanya (apa, siapa, mengapa) dan menceritakan kembali pengalaman atau kejadian yang mereka alami secara runtut.
Penggunaan Kalimat: Berkembang dari mengucapkan satu kata (usia 1 tahun), frasa dua kata (usia 2 tahun), hingga mampu menyusun kalimat lengkap dengan kosakata yang makin kaya seiring bertambahnya usia.
Bahasa Non-Verbal: Menggunakan gestur tubuh, ekspresi wajah, atau kontak mata untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
c. Keaksaraan Awal (Early Literacy)
Area ini merupakan fondasi awal sebelum anak belajar membaca dan menulis secara formal di sekolah dasar. Ruang lingkupnya meliputi:
Kesadaran Cetak (Print Awareness): Memahami bahwa simbol, gambar, dan tulisan di dalam buku atau lingkungan memiliki arti dan cerita.
Kesadaran Fonemik: Mengenali bunyi-bunyi huruf dan suku kata, misalnya menyadari bahwa kata "batu" dan "baju" memiliki bunyi awal yang sama.
Pengenalan Simbol dan Huruf: Mampu mengenali bentuk-bentuk huruf alfabet (terutama huruf dalam nama mereka sendiri) dan menghubungkannya dengan bunyi atau gambar yang sesuai.
Membaca Gambar: Menyimak buku cerita bergambar dan mencoba "membaca" atau mengarang cerita berdasarkan ilustrasi yang mereka lihat.
Perkembangan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh intensitas komunikasi dua arah di lingkungannya. Anak belajar bahasa bukan dengan metode menghafal kosakata dari kartu, melainkan melalui kebiasaan diajak mengobrol, mendengarkan dongeng, bernyanyi, dan bermain peran secara interaktif. Di sinilah peran aktif orang tua dan keluarga, serta guru dan lingkungannya dalam memberikan stimulasi bagi anak.
Sosial-Emosional: berfokus pada bagaimana anak memahami diri sendiri, mengelola emosi, serta berinteraksi secara sehat dengan orang lain. Perkembangan ini menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental, rasa percaya diri, dan kemampuan beradaptasi anak di lingkungan masyarakat.
Merujuk pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA), ruang lingkup perkembangan sosial-emosional anak usia dini dibagi menjadi tiga area utama:
a. Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Area ini berfokus pada kemampuan anak untuk mengenali eksistensi, potensi, dan karakteristik dirinya sendiri. Ruang lingkupnya meliputi:
Mengenali Identitas Diri: Mengetahui nama lengkap, jenis kelamin, usia, serta anggota keluarganya.
Mengenali Emosi Diri: Mampu mengidentifikasi apa yang sedang mereka rasakan (misalnya tahu kapan mereka merasa senang, sedih, marah, takut, atau kecewa).
Membangun Efikasi Diri (Self-Efficacy): Menunjukkan rasa percaya diri terhadap kemampuannya, berani mencoba hal baru, dan bangga atas hasil karyanya sendiri.
b. Pengelolaan Diri (Self-Regulation / Regulasi Emosi)
Area ini mengukur bagaimana anak mengontrol dorongan impulsif dan mengekspresikan emosi mereka secara wajar. Ruang lingkupnya meliputi:
Mengendalikan Emosi: Belajar menenangkan diri saat merasa marah atau kecewa tanpa harus memukul atau mengalami tantrum yang berkepanjangan.
Mengikuti Aturan: Mampu menyesuaikan diri dengan aturan atau rutinitas yang ada di rumah maupun di sekolah (misalnya tahu kapan waktunya bermain dan kapan waktunya merapikan mainan).
Ketekunan dan Sabar: Belajar mengantre menunggu giliran, serta mau bersabar menyelesaikan tugas/permainan yang agak sulit tanpa mudah menyerah.
c. Perilaku Prososial (Social Awareness & Relationship Skills)
Area ini berfokus pada kemampuan anak untuk berinteraksi, berempati, dan menjalin hubungan positif dengan lingkungan sosialnya. Ruang lingkupnya meliputi:
Berbagi dan Bekerja Sama: Mau meminjamkan mainan secara bergantian dan terlibat dalam permainan kelompok (misalnya bermain balok bersama teman).
Menunjukkan Empati: Mampu peduli terhadap perasaan orang lain, seperti menghibur teman yang sedang menangis atau membantu teman yang kesulitan.
Menghargai Perbedaan: Mulai belajar menghormati hak orang lain, menerima perbedaan fisik atau latar belakang temannya, dan menyelesaikan konflik sederhana secara damai (misalnya meminta maaf setelah tidak sengaja menabrak teman).
Meski demikian, pada usia dini, anak masih berada dalam fase egosentris, di mana mereka merasa dunia berputar di sekitar diri mereka sendiri. Oleh karena itu, perkembangan sosial-emosional ini tidak terjadi secara otomatis, melainkan membutuhkan bimbingan yang konsisten melalui contoh nyata (role modeling), validasi emosi yang sehat, dan pembiasaan berinteraksi dari orang dewasa, seperti orang tua, guru, serta lingkungan keluarganya.
Profil kelulusan PAUD dari 8 dimensi beserta penjelasan target capaian idealnya:
1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Anak mulia secara spiritual, sosial, dan memiliki kepedulian terhadap alam sekitar dengan bimbingan.
Hubungan dengan Tuhan: Mencontoh dan membiasakan perilaku ibadah sederhana (berdoa, bersyukur, mengucapkan salam).
Hubungan dengan Sesama: Memahami dasar akhlak mulia seperti kasih sayang, jujur, adil, dan bertanggung jawab kepada keluarga/teman.
Hubungan dengan Alam: Membiasakan diri menjaga lingkungan alam sekitar dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kewargaan
Anak memiliki kesadaran dasar sebagai bagian dari komunitas lokal, nasional, hingga pengenalan global.
Kewargaan Lokal: Mematuhi aturan yang berlaku di rumah dan di sekolah dengan bimbingan orang dewasa.
Kewargaan Nasional: Memahami identitas diri, keluarga, teman, serta mematuhi aturan masyarakat sekitar.
Kewargaan Global: Mulai mengenali keberadaan negara lain di dunia beserta simbol-simbolnya.
3. Penalaran Kritis
Anak mampu berpikir mendasar untuk menyampaikan isi pikiran dan memecahkan tantangan sederhana.
Argumentasi: Mampu menyampaikan pendapat singkat yang disertai dengan alasan sederhana.
Pengambilan Keputusan: Dapat menentukan pilihan berdasarkan keinginan/preferensi dirinya sendiri.
Penyelesaian Masalah: Berusaha dan mampu menyelesaikan tantangan atau hambatan bermain yang ia alami.
4. Kreativitas
Anak mampu menyalurkan imajinasi menjadi gagasan dan karya nyata melalui tindakan motorik.
Gagasan Baru: Menyampaikan ide atau gagasan imajinatif sederhana.
Fleksibilitas Berpikir: Menunjukkan proses berpikir yang luwes dalam memecahkan masalah sehari-hari.
Karya: Mengeksplorasi bentuk karya atau tindakan berdasarkan pikiran/perasaannya menggunakan motorik kasar dan halus.
5. Dimensi Kolaborasi
Anak mulai peka terhadap kehadiran orang lain dan mampu berinteraksi sosial dalam kelompok.
Peduli: Mengenali dan menunjukkan perilaku peduli pada orang lain saat bermain dan berinteraksi.
Berbagi: Mengenali dan membiasakan perilaku berbagi kepada teman sebaya maupun anggota keluarga.
Kerja Sama: Mengenali dan ikut serta dalam aktivitas kerja sama kelompok melalui bimbingan guru/orang tua.
6. Dimensi Kemandirian
Anak menunjukkan inisiatif, regulasi diri, dan tanggung jawab dasar atas aktivitasnya.
Bertanggung Jawab: Mampu menyelesaikan tugas individu yang diberikan guru dengan bimbingan.
Kepemimpinan: Berani menjalankan peran yang diberikan dalam konteks bermain bermakna dengan arahan minimal.
Pengembangan Diri: Mau mengikuti arahan serta mencontoh hal baru dari guru atau teman sebaya.
7. Dimensi Kesehatan
Anak menginternalisasi kebiasaan hidup sehat fisik, mental, serta kebersihan lingkungan hidup.
Hidup Bersih & Sehat: Membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun, menggosok gigi, mandi, dan makan makanan bergizi.
Kesehatan Fisik & Mental: Berolahraga teratur, tidur cukup, serta belajar mengendalikan emosi dengan bimbingan.
Kesehatan Lingkungan: Ikut serta secara aktif menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah.
8. Dimensi Komunikasi
Anak memiliki kemampuan dasar kebahasaan (literasi awal) untuk menerima dan menyampaikan pesan.
Menyimak: Mendengarkan teks lisan pendek secara aktif untuk mendapat informasi eksplisit serta memberi tanggapan sederhana.
Berbicara: Menyampaikan, menggali, dan menanggapi informasi lisan melalui teks sederhana secara cukup tepat dan lancar.